Genggaman Tangan Yang Dejavu

Sepuluh hari lagi, bulan Juli akan berakhir. Tapi sudah lama aku tidak menulis di blog ini. Aku sudah tertinggal cukup jauh dengan topik tantangan menulis dari grup KLIP Drakor. Bulan ini, aku cukup kesulitan untuk menulis. Sebenarnya, setiap topik sudah sempat sedikit-sedikit kubuat draftnya. Tapi saat deadline tiba, aku belum usai melengkapinya. Semakin dinanti, semakin aku tertinggal jauh. Ketika aku ingin memulai kembali dan mengejar ketertinggalan, semua justru makin sulit untuk memulai. Kini, aku kembali mengumpulkan semangatku untuk menulis dan mencicil kembali topik-topik yang belum. Semangat!

Untuk mengawalinya, aku akan memulai dari topik ke delapan belas. Topik ini membahas tentang scene drakor yang bikin dejavu (serasa pengalaman sendiri). Wah… Topik ini rasanya cukup sulit, padahal aku baru saja memutuskan untuk menulis kembali. Aku coba berpikir, adegan apakah yang terjadi di drama tapi terjadi juga pada kehidupanku? Rasanya tidak ada? Kebanyakan drakor yang aku tonton bergenre romance. Tapi di kehidupan nyataku, tak banyak adegan romantis yang terjadi seperti di drama. Rasanya aku tak memilki ide untuk menulis topik ini.

Aku tidak mau menyerah lagi. Aku sudah putuskan untuk kembali menulis. Maka ku coba mencari ide dengan kembali mengingat-ingat adegan dari drama yang telah ku tonton. Hingga akhirnya aku ingat, aku pernah membuat kolase foto dari sebuah drama. Kolase itu berisi potongan adegan yang aku sukai. Adegan tersebut sederhana, tapi memiliki banyak arti buatku. Akhirnya, ku temukan juga adegan drakor yang dejavu untukku.

Adegan Episode 9 dari drama My Father Is Strange (2017)

Gambar diatas adalah kolase foto yang aku maksud. Potongan adegan pada kolase di atas berasal dari drama My Father Is Strange (2017). Adegan pada drama tersebut menceritakan tentang penantian seorang ayah yang menunggu anaknya pulang kerja di depan stasiun. Seorang ayah yang bernama Lee Youn Sook/Byun Han Su, diperankan oleh (Kim Yeong Cheol) sedang menunggu anak perempuan pertamanya, Lee Hye Young/Byun Hye Young yang diperankan oleh (Lee Yoo Ri). Sang anak sangat senang, ketika melihat sang ayah menjemputnya. Sang ayah kemudian berkata, bahwa ia mengetahui saat ini putri kecilnya sudah dewasa. Tapi bagi sang ayah dan ibunya, ia akan tetap menjadi putri kecil mereka.

Sang anak pun merespon dengan mengulurkan tasnya untuk dibawakan oleh ayahnya. Ia kemudian mendekat dan menggengam tangan ayahnya. Mereka pun berjalan pulang sambil bergandengan tangan. Adegan tersebut pun berlanjut ke kilas balik masa lalu, ketika sang anak masih kecil. Saat pulang sekolah, ia dijemput oleh ayahnya. Ayahnya yang membawakan tasnya. Mereka pun pulang bergandengan tangan.

Adegan tersebut terlihat sederhana namun sangatlah manis. Ketika pertama kali aku melihatnya, air mata menetes di pipiku tanpa aku sadari. Rasanya dejavu. Adegan seperti itu pernah terjadi juga di kehidupanku.

Aku pernah bekerja menjadi pramuniaga di salah satu restoran di kota Bandung. Restoran tersebut letaknya sangat dekat dari rumahku. Aku cukup berjalan kaki selama lima menit, maka aku pun akan sampai di depan restoran. Setelah satu bulan bekerja, aku dipindahkan ke cabang restoran yang berada di daerah Dago. Cabang restoran disana membutuhkan lebih banyak pramuniaga karena lebih ramai konsumen. Untuk menuju tempat kerja yang baru, aku harus naik angkot jurusan Cicaheum-Ledeng. Begitu pun pulangnya, aku kembali naik angkot jurusan yang sama kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit hingga sampai ke rumah.

Ada tiga waktu kerja yang berlaku di restoran, shift pagi, tengah dan siang. Setiap waktu kerja terdiri dari delapan jam kerja ditambah satu jam istirahat. Shift pagi dimulai dari jam tujuh, sedangkan shift siang dimulai dari jam dua siang. Jika aku bekerja pada shift siang, maka aku akan pulang jam sepuluh malam. Di hari Sabtu dan Minggu, restoran akan lebih ramai oleh pengunjung. Banyak pengunjung yang baru pergi meninggalkan restoran tepat di jam sepuluh. Alhasil, aku pun akan pulang semakin larut. Jam pulang bergeser menjadi jam sebelas bahkan hampir setengah dua belas malam. Untungnya jalanan dari Dago menuju rumahku pada malam hari termasuk cukup ramai.

Ketika aku bekerja dengan jadwal shift siang, ayah akan menungguku di pinggir jalan. Tanpa aku minta, Ayah akan menungguku untuk pulang. Meskipun aku terlambat untuk pulang, Ayah akan tetap setia menunggu. Sesaat aku turun dari angkot, aku pasti mendapati ayahku yang sedang berdiri menyambut kedatanganku. Dari sebrang jalan, aku sudah bisa melihat sosoknya dengan jelas. Ayah biasa mengenakan celana panjang dan kaos yang ditutupi oleh jaket hijau abu kesayangannya. Setelah turun dari angkot, meskipun di sebrang jalan, aku akan langsung mengenali sosoknya. Dari jauh pun, aku akan langsung melambaikan tangan.

Aku senang sekali dijemput oleh Ayah. Meskipun lelah bekerja, senyumku tetap sumringah dihadapannya. Setelah aku menyebrang jalan dan berdiri tepat di depannya. Aku akan langsung mengulurkan tanganku dan menggandeng tangan ayah. Kami pun akan berjalan kaki menuju rumah. Selama perjalanan, aku akan mengoceh tentang banyak hal. Terutama aku akan bercerita tentang pengalamanku hari itu. Ayah pun akan menyimak ceritaku dengan seksama. Sesekali ia pun mengajukan pertanyaan, memberikan komentar ataupun menasihatiku.

Tak ku sangka, ternyata momen tersebut hanya bisa aku rasakan sesaat. Karena tak berapa lama kemudian ayahku jatuh sakit. Tiba-tiba saja, ayahku ambruk dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ia pun harus dirawat dan menjalani serangkaian proses medis. Terakhir kali, kondisinya telah membaik. Bahkan ia siap untuk kembali pulang ke rumah. Tapi ternyata ia pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya.

Setelah kepergian ayahku. Pulang kerja shift siang terasa sangat berbeda. Tak ada lagi sosok yang menantiku dipinggir jalan. Tak ada lagi senyuman yang menyambutku. Tak ada lagi tangan hangat yang menggengam tanganku. Tak ada lagi telingga yang mendengar cerita-ceritaku. Tak ada lagi suara renyah yang menanggapiku.

Aku menyusuri jalanan seorang diri. Pekatnya malam menyadarkanku akan kesunyian jalan ini. Dinginnya malam menyadarkanku akan kerinduan hangatnya gengaman tangan ayah. Biasanya jalanan ini aku lalui bersama ayah. Tapi kini aku hanya seorang diri. Memoriku bersama Ayah sepanjang jalan berputar di kepalaku. Kini, hanya air mata yang mengawal perjalananku menuju rumah.

Maka tak heran, ketika pertama kali aku melihat adegan drama tersebut. Semua tampak familiar. Adegan tersebut mengingatkan momen kebersamaan aku dan ayahku. Momen tersebut merupakan salah satu momen hangat yang paling berharga bagiku. Momen membahagiakan yang kini menyimpan air mata kerinduan.

5 tanggapan untuk “Genggaman Tangan Yang Dejavu”

  1. Aku jadi ikut kangen papaku. Kenangannya indah untuk dikenang, diabadikan dalam tulisan.

    Ditunggu tulisan-tulisan topik sebelumnya juga ya mbak.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s